Home > Diary > Enrekang 4 Mei 2010

Enrekang 4 Mei 2010

Enrekang, 4 Mei 2010

Siang hari pukul 12.00 jam ditanganku berdetak, ternyata sudah tiba di Bandara Hasanudin Makasar. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Celebes. Udaranya cukup panas, tapi Alhamdulillah saat itu sedang musin hujan jadi udara tidak terlalu menyengat. Setibanya di luar pintu bandara, ternyata sudah ada orang yang menjemput kami untuk ke Kabupaten Enrekang, ternyata yang menjemput kami adalah kepala kantornya….wah jadi tidak enak..

Perjalanan dimulai, menurut Bapak Abd.Salam, kepala kantor BPS Kab. Enrekang perjalanan Makasar sampai enrekang bisa ditempuh sekitar 6 jam, tapi kalau memakai angkutan kota, bisa mencapai 5 jam, karena sopirnya tidak pakai rem kalau bawa mobil. Saya, Pa Aank, dan Pa Abd Salam kami bertiga menyetir mobil bergantian.

Lokasi tempat sampel merupakan lokasi bekas basis DI/TII, oleh karena itu Kota Enrekang merupakan kota yang agamis. Salah satu jalur yang pernah dilalui pada saat pelarian DI/TII adalah jalur ke desa Tobalu dan Bungin. Dalam hati saya mengatakan, “Pantes saja jalurnya seperti ini…” Tetapi pemandangan menuju desa tersebut sangat tidak bisa dilupakan. Sepanjang jalan kita dapat melihat jajaran pegunungan yang indah. Kita dapat melihat Gunung Nona yang terkenal itu, yaitu gunung yang bentuknya menyerupai kelamin wanita.

Di Enrekang masyarakatnya sangat ramah dan sangat bersahabat. Awalnya saya pikir, orang-orang sulawesi selatan kasar, seperti namanya Makasar, tapi saya salah besar. Orang-orang daerah enrekang sangat bersahabat. perjalanan untuk sampai ke desa tujuan tidak terasa sulit jadinya karena sepanjang perjalanan bertemu dengan warga yang ramah.

Hal yang menarik dalam perjalanan ke tempat sample adalah perjalanan yang sangat menantang. Bahkan Kepala kantor nya saja belum pernah kesana, dan orang-orang kota Enrekang sewaktu kami bilang dari desa Tobalu dan Bungin, mereka sampai geleng kepala, “Kami saja belum pernah kesana pa..” Hal itu dikarenakan jalur menuju ke desa tersebut yang sulit. Lebar jalan menuju desa tersebut hanya 30 cm, pinggir kiri adalah jurang dan sisi sebelah kanannya tebing. Belum lagi kalau sewaktu-waktu ada sapi yang diikat dipinggir jalan. Jalan itu kalau di tempuh dengan jalan kaki memakan waktu seharian, makanya alternatif lain harus menggunakan sepeda motor. Tapi mental harus benar-benar di persiapkan bila menggunakan motor ke desa tersebut…

Sayang perjalanan kami harus berakhir di Enrekang, kami tidak sempat melihat pemecahan rekor MURI untuk makan dangke(makanan khas Enrekang). Kami harus kembali ke Makasar untuk menaiki pesawat ke Jakarta. Tapi semuanya terasa mengasyikkan dan pengalaman yang tidak terlupakan

Categories: Diary
  1. April 26, 2013 at 10:52 pm

    WOW just what I was searching for. Came here by searching
    for enrekang

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: